Pekan
lalu, Indonesia kedatangan Menteri Perdagangan dan Luar Negeri (MITI) Malaysia
Mustapa Muhamed. Dalam kunjungannya ke Indonesia menteri Negara Jiran yang
akrab dipanggil Tok Pa itu menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu
sentra ekonomi masyarakat yakni Pasar Tanah Abang. Dalam kunjungan selama 40
menit di Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, ia membeli sejumlah barang. Ia
juga sempat bercengkerama dengan para pedagang. Usai berbelanja dan
menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk beberapa potong baju dan kerupuk,
Mustapa merekomendasikan belanja murah di Blok G Tanah Abang. Rekomendasi itu
juga ia sampaikan kepada warga negara Malaysia. Tok Pa mengungkapkan jika
banyak orang Malaysia juga yang berdagang di Tanah Abang, ia juga memuji
pelayanan yang baik dari para penjual, termasuk sikap ramah dan semangat
mereka. Tok Pa yakin jika melihat kondisi perdagangan dalam negeri Indonesia
seperti demikian, maka baik untuk perkembangan komunitas ekonomi di ASEAN tahun
2015 nanti.
Aksi
Mustapa Muhammed ini mendapat pujian dari beberapa kalangan, baik dari pejabat
Indonesia, media dan para pengamat. Peneliti Komunitas Studi Politik, Hanif
Vidi, pun mengapresiasi apa yang dilakukan Menteri Negara tetangga itu. Ditemui
di salah satu kafe di daerah Kemang, Hanif berujar jika sudah sepatutnya para
menteri RI mencontoh sikap dari menteri Malaysia itu. “ Sebuah respon positif dari negeri tetangga yang mau berkunjung melihat
aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia, apalagi sampai mempromosikannya ke
mancanegara. Secara ekonomi, itu bisa meningkatkan prospek ekspor barang-barang
dalam negeri kita. Sedangkan secara diplomatik, hal itu menandakan jika
hubungan antara kedua Negara yang sering adem panas kini sudah mulai kondusif
“. Lebih lanjut Hanif menandaskan jika aksi Tok Pa itu bisa jadi merupakan
pencerminan profesionalitas kinerja para pejabat di negeri tetangga. Dengan
kata lain, jika menteri Negara lain bisa mengapresiasi dan mempromosikan sektor
perekonomian Indonesia, mengapa Menteri Negara kita tidak ?. Ditanya lebih
lanjut mengenai perbandingan kinerja menteri antara Indonesia dan Malaysia,
Hanif hanya tersenyum. “ Saya tak tahu
berapa persen jumlah kementrian kita yang serius dalam bekerja. Jika dilihat
secara faktual, yang ada menteri kita justru banyak terjebak dalam perebutan
jabatan politik dan urusan kepartaian. Itu mungkin tampak wajar mengingat sebagian
dari mereka berasal dari Parpol, tapi menjadi tak wajar ketika kementerian yang
dipimpinnya itu justru nir prestasi “.
Hanif
menyayangkan banyaknya Menteri yang hari ini lebih sibuk mengurusi jabatan
politik menjelang 2014. Alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya itu
kemudian mencontohkan beberapa Menteri yang tampak lebih banyak sibuk mengurusi
Parpol dan jabatan politik ketimbang mengontrol kinerja birokrasinya. Gita
Wirjawan misalnya, sama-sama Menteri Perdagangan, jika dibandingkan dengan Tok
Pa, Gita terlihat lebih banyak tampil di iklan TV dan media on line untuk pencalonannya
sebagai Capres 2014 nanti. Gita juga tampak lebih repot mempersiapkan dirinya
dalam Konvensi Capres Partai Demokrat dan seperti menduakan urusan perdagangan
dalam negeri. Padahal masyarakat dan pasar masih direpotkan dengan harga
Sembako juga produk lain seperti jengkol, bawang putih atau harga daging. Dalam
kepemimpinannya, Gita juga lebih banyak berorientasi kepada kebijakan impor
daripada ekspor. Contoh lain adalah menteri dari Partai Demokrat seperti Syarif
Hasan (Menkop), Amir Syamsuddin (Menkumham) dan Jero Wacik (Men-ESDM) yang
seringkali terlihat bersuara di media massa untuk urusan internal Partai
Demokrat. Nama terakhir bahkan diduga terlibat korupsi Migas yang sedang
diselidiki oleh KPK. Ada lagi nama Suswono (Menteri Pertanian), menteri asal
PKS dan Suryadharma Ali (Menteri Agama) yang sedang disorot karena kinerja
kementriannya yang sedang anjlok.