Selasa, 14 Januari 2014

Mendag Malaysia Promosikan Tanah Abang, Mendag RI Sibuk Ngiklan



Pekan lalu, Indonesia kedatangan Menteri Perdagangan dan Luar Negeri (MITI) Malaysia Mustapa Muhamed. Dalam kunjungannya ke Indonesia menteri Negara Jiran yang akrab dipanggil Tok Pa itu menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu sentra ekonomi masyarakat yakni Pasar Tanah Abang. Dalam kunjungan selama 40 menit di Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, ia membeli sejumlah barang. Ia juga sempat bercengkerama dengan para pedagang. Usai berbelanja dan menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk beberapa potong baju dan kerupuk, Mustapa merekomendasikan belanja murah di Blok G Tanah Abang. Rekomendasi itu juga ia sampaikan kepada warga negara Malaysia. Tok Pa mengungkapkan jika banyak orang Malaysia juga yang berdagang di Tanah Abang, ia juga memuji pelayanan yang baik dari para penjual, termasuk sikap ramah dan semangat mereka. Tok Pa yakin jika melihat kondisi perdagangan dalam negeri Indonesia seperti demikian, maka baik untuk perkembangan komunitas ekonomi di ASEAN tahun 2015 nanti.
Aksi Mustapa Muhammed ini mendapat pujian dari beberapa kalangan, baik dari pejabat Indonesia, media dan para pengamat. Peneliti Komunitas Studi Politik, Hanif Vidi, pun mengapresiasi apa yang dilakukan Menteri Negara tetangga itu. Ditemui di salah satu kafe di daerah Kemang, Hanif berujar jika sudah sepatutnya para menteri RI mencontoh sikap dari menteri Malaysia itu. “ Sebuah respon positif dari negeri tetangga yang mau berkunjung melihat aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia, apalagi sampai mempromosikannya ke mancanegara. Secara ekonomi, itu bisa meningkatkan prospek ekspor barang-barang dalam negeri kita. Sedangkan secara diplomatik, hal itu menandakan jika hubungan antara kedua Negara yang sering adem panas kini sudah mulai kondusif “. Lebih lanjut Hanif menandaskan jika aksi Tok Pa itu bisa jadi merupakan pencerminan profesionalitas kinerja para pejabat di negeri tetangga. Dengan kata lain, jika menteri Negara lain bisa mengapresiasi dan mempromosikan sektor perekonomian Indonesia, mengapa Menteri Negara kita tidak ?. Ditanya lebih lanjut mengenai perbandingan kinerja menteri antara Indonesia dan Malaysia, Hanif hanya tersenyum. “ Saya tak tahu berapa persen jumlah kementrian kita yang serius dalam bekerja. Jika dilihat secara faktual, yang ada menteri kita justru banyak terjebak dalam perebutan jabatan politik dan urusan kepartaian. Itu mungkin tampak wajar mengingat sebagian dari mereka berasal dari Parpol, tapi menjadi tak wajar ketika kementerian yang dipimpinnya itu justru nir prestasi “.
Hanif menyayangkan banyaknya Menteri yang hari ini lebih sibuk mengurusi jabatan politik menjelang 2014. Alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya itu kemudian mencontohkan beberapa Menteri yang tampak lebih banyak sibuk mengurusi Parpol dan jabatan politik ketimbang mengontrol kinerja birokrasinya. Gita Wirjawan misalnya, sama-sama Menteri Perdagangan, jika dibandingkan dengan Tok Pa, Gita terlihat lebih banyak tampil di iklan TV dan media on line untuk pencalonannya sebagai Capres 2014 nanti. Gita juga tampak lebih repot mempersiapkan dirinya dalam Konvensi Capres Partai Demokrat dan seperti menduakan urusan perdagangan dalam negeri. Padahal masyarakat dan pasar masih direpotkan dengan harga Sembako juga produk lain seperti jengkol, bawang putih atau harga daging. Dalam kepemimpinannya, Gita juga lebih banyak berorientasi kepada kebijakan impor daripada ekspor. Contoh lain adalah menteri dari Partai Demokrat seperti Syarif Hasan (Menkop), Amir Syamsuddin (Menkumham) dan Jero Wacik (Men-ESDM) yang seringkali terlihat bersuara di media massa untuk urusan internal Partai Demokrat. Nama terakhir bahkan diduga terlibat korupsi Migas yang sedang diselidiki oleh KPK. Ada lagi nama Suswono (Menteri Pertanian), menteri asal PKS dan Suryadharma Ali (Menteri Agama) yang sedang disorot karena kinerja kementriannya yang sedang anjlok.